ARTIKEL

Home > Saham > Artikel

 

Tips dan Trik Memulai Belajar Trading Saham untuk Pemula

Setelah anda memutuskan untuk membeli saham apakah itu untuk tujuan trading atau investasi, maka timbul pertanyaan bagaimana cara membeli saham perusahaan-perusahaan yang telah anda yakini tingkat profitabilitas finansialnya.

Tips belajar saham yang perlu anda ketahui sebelumnya yaitu terdapatnya pihak yang menghubungkan calon investor dan emiten (perusahaan) yang menjadi perantara atau disebut dengan Broker (pialang). Berikut langkah dan cara yang perlu anda lakukan untuk belajar melakukan transaksi saham di Bursa Efek.

1.      Menyiapkan  Dana Modal

Seberapa besar modal yang anda butuhkan? Ini mungkin menjadi pertanyaan klasik bagi mereka yang sekedar ingin tahu atau benar-benar serius ingin membeli saham. Perlu anda ketahui bahwa Investasi saham masa kini tidak membutuhkan dana sebesar dulu. Kini, Anda sudah bisa berinvestasi saham hanya dengan modal lima juta rupiah.

Bursa Efek Indonesia  menetapkan bahwa besar jual beli saham minimum per lot adalah 100 lembar, saham-saham pun bisa dibeli dengan dana yang relatif rendah. Namun demikian, ada beberapa saham dengan likuiditas tinggi ambil contoh saham ABCD yang kisaran harga sahamnya sekitar Rp 1500 perlembar. Artinya untuk membelinya anda harus menyiapkan modal sebesar Rp 150.000 agar bisa membeli saham ABCD sebanyak 1 Lot.

2.      Memilih Broker

Langkah kedua dalam belajar saham untuk pemula adalah memilih Broker. Sampai dengan saat ini terdapat sekitar 115 Broker yang bisa anda pilih menjadi perantara dan mitra anda dalam menemukan saham yang menguntungkan.

Broker atau pialang tentu saja memiliki karakteristiknya masing-masing, ada yang terkenal karena akses infromasi dan pengetahuan pasar yang luas, ada yang terkenal karena online tradingnya, atau bahkan ada yang menawarkan modal awal yang rendah. Intinya temukanlah broker yang sesuai dengan kebutuhan anda.

3.      Mendaftar Ke Broker Saham

Untuk mendaftar ke broker saham anda bisa datang ke Perusahan Sekuritas atau broker yang nanti  secara langsung membantu proses Pembukaan rekening efek, penjelasan dan bimbingan yang jauh lebih rinci tentang belajar saham yang efektif sekaligus saran broker yang harus anda pilih sebagai perantara anda.

4.      Perdalam Pengetahuan Tentang Investasi Dan Trading

Pengetahuan tentang investasi dan trading serta pergerakan pasar adalah hal krusial yang harus anda ketahui sebanyak mungkin sebagai pemula dalam proses belajar saham. Ketika terjun dalam dunia investasi dan trading, jangan pernah sama sekali anda masuk tanpa pengetahuan yang memadai. Bermodalkan spekulasi tidaklah cukup, anda harus cerdas dalam melihat keberagaman dan alasan fluktuasi pasar.

Selain itu, pengetahuan anda tentang saham dari perusahaan yang anda beli harus benar-benar maksimal. Siapapun tentu saja tidak ingin perusahaan yang menjadi mitranya tiba-tiba anjlok. Untuk itu, anda harus tahu betul karakteristik perusahaan itu, minimal dengan menganalisa laporan keuangan yang bisa anda dapatkan dari Bursa Efek Indonesia.

 

Memahami Analisa Teknikal Sederhana

Analisis teknikal merupakan metode analisis instrumen investasi yang menggunakan data-data historis mengenai perubahan harga saham maupun instrumen lainnya, volume dan beberapa indikator pasar yang lain untuk melahirkan rekomendasi keputusan investasi. Analisis ini bisa diterapkan pada bursa saham, pasar valuta asing, bursa komoditas atau pasar apapun yang pergerakan harga dagangannya dipegaruhi oleh permintaan dan penawaran.

Dengan menggunakan data-data mengenai harga,penawaran serta permintaan di masa lalu, analisis teknikal saham bertujuan memprediksi bagaimana permintaan dan pasokan dimasa mendatang, serta menganalisa harga saham yang mungkin akan terbentuk karenanya. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasikan suatu tren atau pola yang berulang dari pergerakan harga saham dan kemudian dieksploitasi untuk mendapatkan kentungan.

Para analis teknikal juga percaya bahwa proses perubahan harga saham yang disebabkan oleh adanya suatu informasi yang baru di pasar akan cenderung mengikuti suatu tren tertentu. Dengan menyimpulkan hal-hal tersebut, analisis teknikal dipakai untuk mendasari keputusan kapan harus mengambil untung (profit taking), mengurangi kerugian (cut loss), mulai melakukan akumulasi saham atau mulai menahan posisi (wait & see).

Analisa harga saham dan volume perdagangan adalah sarana utama dari analisis teknikal saham dan grafik adalah sarana untuk menampilkan data tersebut. Data volume perdagangan akan digunakan untuk memberikan gambaran umum mengenai kondisi pasar dan akan membantu untuk memperkirakan tren harga selanjutnya.

Perubahan harga saham baik kenaikan atau penurunan biasanya akan berkorelasi dengan kenaikan atau penurunan volume perdagangan. Penurunan harga dari satu pola tertentu yang diikuti oleh volume penjualan yang sangat tinggi, umumnya akan diterjemahkan bahwa pasar (saham) akan mengalami bearish (harganya menurun).

Analisis teknikal saham lebih banyak menggunakan data-data pasar. Oleh karena itu, para analis teknikal lebih suka memperhatikan pergerakan harga saham di bursa dibanding mengamati laporan keuangan atau membaca berita-berita koran yang berkaitan dengan emiten yang sedang diamati. Tugas mereka memang mengamati perubahan harga saham tersebut untuk mempelajari pola berpikir atau perilaku pihak-pihak lain yang terlibat di bursa. Dari analisa harga saham tersebutlah mereka lalu memprediksikan arah pergerakan harga saham tersebut melalui data-data yang tersaji dalam bentuk grafilk (charts).

Mengidentifikasikan suatu tren atau pola pergerakan harga saham yang berulang adalah tujuan utama dari pada analis teknikal, tentunya dengan harapan agar dapat menemukan sinyal untuk beli (buy), tahan (tahan) atau jual (sell). Dalam melakukan analisis teknikal saham hanya ada beberapa data utama yang diperlukan, yaitu perubahan harga saham (atau instrumen lainnya) dan nilai transakasi. Para analis teknikal  memilah harga menjadi empat jenis : harga pembukaan, harga tertinggi, harga terendah dan harga penutupan.

Kita semua memahami, bahwa harga saham dapat naik dan turun secara cepat atau pun secara berangsur-angsur sehingga pada grafik akan terlihat membentuk beberapa puncak, lembah atau bisa juga mendatar (harga bergerak dalam kisaran sempit). Dalam upaya menganalisa harga saham dan mengidentifikasikan suatu tren perubahan harga saham, para analis teknikal berpedoman pada dua asumsi penting. Pertama, harga bergerak pada tren tertentu dan kedua, tren ini akan terus berlangsung hingga terdapat suatu kejadian yang membuat tren akan berubah.

 

Metode Analisa Teknikal Saham Sederhana

Analisa Teknikal adalah analisis yang menggunakan data perdagangan pasar (harga, dan volume) yang kemudian dimanipulasi sedemikian rupa hingga membentuk beberapa indikator terkenal seperti MACD, Fibonacci, RSI, Bollinger Band, dan lain sebagainya.

Dengan mempelajari metode analisis teknikal diharapkan kita mampu membeli saham dengan harga yang tepat (harga yang rendah) dan mampu menjualnya dengan harga yang tepat pula (harga yang lebih tinggi), sehingga kita mampu mendapatkan profit yang optimal dan maksimal.

Berikut Metode yang dapat digukanan dalam menganalisa pergerakan harga saham dengan analisa teknikal :

Support Level & Resistance Level

Pada analisa teknikal saham support level and resistance level ini, harga dikatakan berada pada support level (SL) jika harga tersebut berada pada level terendah dan pada level tersebut pergerakan harga saham berupa penurunan sangat sukar terjadi. Umumnya SL terbentuk setelah suatu saham mengalami kenaikan harga yang besar dan kemudian mengalami penurunan karena adanya aksi ambil untung (profit taking) dari para investor.

Sementara, harga saham dikatakan berada pada resistance level (RL) jika harga berada pada level tertinggi dan pada level tersebut harga sangat sukar untuk naik. Sebuah RL cenderung akan terbentuk setelah suatu saham mengalami penurunan yang cukup signifikan dari harga sebelumnya. SL dan RL dapat diterjadi saat harga sedang dalam tren naik (uptrend), mendatar (sideway) atau turun (downtrend).

Moving Average (MA)

Moving average (MA) atau rata-rata bergerak adalah salah satu dari sekian banyak metode analisa harga saham yang sering digunakan dalam analisis teknikal saham. Moving average (MA) adalah rata-rata harga saham selama periode waktu yang telah lalu dan kemudian diplot ke dalam grafik beserta harga saham aktual di pasar saat itu.

MA yang berasal dari rata-rata harga saham selama lima hari perdagangan, contohnya, ditulis sebagai MA-5. MA yang berasl dari rata-rata harga selama 15 hari ditulis sebagai MA-15. Jadi moving average menyatakan rata-rata harga saham tersebut akan dihitung lagi seiring dengan berjalannya waktu. Data harga yang digunakan biasanya adalah harga penutupan (closing price).

Metode double top dan double bottom

Double Top, pola ini terbentuk ketika ada perubahan harga saham berupa kenaikan sampai pada level tertentu, lalu turun dan kemudian naik lagi (dengan volume perdagangan lebih kecil) menyamai level harga tertinggi sebelumnya dan kemudian menurun lagi. Jika kejadian tersebut berulang sekali lagi, maka akan terbentuk kurva yang memiliki dua puncak kembar (seperti huruf M).

Pola dari analisa harga saham ini menunjukan bahwa pasar telah dua kali gagal mencoba menembus batas harga atas (tertinggi) tersebut. Jika harga kemudian menurun sampai menembus tingkat harga terendah sebelumnya (sebelum puncak yang kedua), itu mengindikasikan tren pergerakan harga saham akan terus menurun. Pola double top ini memberikan sinyal untuk segera melakukan aksi jual.

Kebalikan dari pola Double Top yaitu pola double bottom (seperti huruf W). Dengan logika yang sama, pola ini memberikan sinyal untuk melakukan aksi beli karena diperkirakan harga akan terus meningkat.

 

Cara Mudah Membaca dan memahami Laporan Keuangan Emiten

Sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan tentang keterbukaan informasi, setiap perusahaan publik yang tercatat di Bursa Efek Indonesia wajib mempublikasikan laporan keuangan selambatnya 90 hari sejak berakhirnya tahun buku perusahaan.

Otoritas tentu punya alasan menetapkan aturan tersebut. Salah satunya agar publik punya akses mudah mendapatkan laporan Keuangan Tahunan emiten. Laporan ini dapat dijadikan pedoman untuk membuat riset sederhana tentang kondisi fundamental emiten, sekaligus menilai prospek perusahaan bersangkutan. Agar punya informasi lebih komprehensif, investor juga perlu mendapatkan dokumen resmi laporan keuangan emiten yang lazimnya sangat detail.

Agar bisa membuat riset sederhana untuk keperluan pribadi, seorang investor atau calon investor perlu punya gambaran sederhana tentang cara memahami laporan keuangan. Ini penting bagi investor sebelum membuat keputusan berinvestasi. Langkah pertama, penting untuk mencermati laporan direksi atau manajemen perusahaan. Sebab pada bagian ini manajemen menjelaskan tentang perjalanan perusahaan, prospek, serta recana bisnis ke depan.

Langkah berikut mencermati angka-angka yang tertera dalam laporan keuangan. Informasi penting yang perlu dicermati meliputi: neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, laporan perubahan modal, serta catatan atas laporan keuangan. Minimal seorang investor mencemati neraca setelah laporan direksi.

Neraca menggambarkan posisi keuangan perusahaan, yang isinya berupa catatan tentang aktiva (aset), kewajiban (utang), serta ekuitas (modal). Aktiva atau aset adalah segala sesuatu yang dimiliki perusahaan, sedangkan pasiva (kewajiban dan ekuitas) merupakan gambaran tentang apa dilakukan perusahaan untuk memperoleh atau membiayai aset.

Beberapa poin penting dalam neraca yang perlu dicermati. Poin pertama adalah pos pendapatan usaha. Poin ini bisa memperlihatkan perusahaan dalam tren positif atau sebaliknya dari sisi operasional. Berita baik jika pendapatan usaha perusahaan dalam posisi positif.

Langkah berikut melihat posisi laba bersih setelah pajak. Laba bersih perusahaan menentukan besarnya laba bersih per saham. Laba bersih per saham menjadi indikasi untuk besarnya dividen yang akan dibagikan untuk pemegang saham. Perlu bagi seorang investor untuk membandingkan pendapatan usaha dan laba bersih antara beberapa emiten dalam satu sektor. Tujuannya untuk memastikan emiten mana yang membukukan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih lebih tinggi pada sektor yang sama.

Ada beberapa rasio keuangan yang juga penting dicermati. Pertama, net profit margin (NPM) yang menggambarkan profitabilitas perusahaan. Nilai NPM berasal dari laba bersih dibagi pendapatan usaha. Semakin besar nilai NPM, semakin efisien perusahaan tersebut.

Return on equity (ROE) memberikan gambaran perbandingan antara laba yang dihasilkan dengan modal yang disetorkan pemegang saham (ekuitas). Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian hasil investasi. Nilai ROE yang baik biasanya di atas 20% persen. Semakin tinggi ROE semakin bagus atau semakin optimal kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan modal perusahaan.

Rasio ketiga adalah earning per share (EPS) atau laba bersih per saham. Angka EPS diperoleh dengan membagi laba bersih perusahaan (setelah dikurangi dividen), dengan jumlah saham beredar. EPS juga bisa digunakan untuk melihat profitabilitas perusahaan. Semakin besar nilai EPS, semakin bagus kinerja emiten.

Nilai buku perusahaan atau book value perlu juga dilihat. Nilai buku berguna untuk membandingkan nilai perusahaan per saham dengan posisi harga saham di lantai bursa. Jika harga saham lebih tinggi dari nilai buku per saham, maka disebut saham tersebut overvalue atau harga melebihi nilai buku. Artinya potensi kenaikan harga saham itu akan terbatas. Sebaliknya, jika harga saham di bawah nilai buku, maka disebut undervalued atau harga saham masih di bawah nilai buku. Kenaikan harga saham sangat terbuka.

Indikator lain yang juga perlu dilihat adalah price to earnings ratio (PER). Perhitungan nilai PER dapat dilakukan dengan cara membagi harga saham dengan EPS. Semakin tinggi PER maka semakin mahal harga saham tersebut. Sebaliknya nilai PER yang rendah berarti harga saham tergolong masih murah.

 

Batasi Kerugian Investasi Saham dengan Kenali Cut Loss

Investasi saham adalah jenis investasi yang memiliki potensi kerugian. Dalam berinvestasi saham, ada satu cara yang umumnya dipakai untuk membatasi dan  mengantisipasi kerugian agar tidak terlalu besar, yaitu dengan menetapkan batas cut loss sesuai dengan profil risiko kerugian yang dapat ditanggung.

Sebagai investor atau trader saham, baik Anda adalah pemula, maupun kawakan, Anda pasti sudah hafal dengan istilah cut loss, yaitu ketika kita menjual saham pada harga yang lebih rendah dari harga belinya, sehingga kita mengalami kerugian.

Seringkali saat bertransaksi saham, Anda disarankan untuk cut loss bila harga saham sulit memungkinkan untuk kembali naik. Apakah yang dimaksud cut loss dalam perdagangan saham? Mengapa kita perlu menetapkan cut loss? Kapan dan bagaimana cara menggunakan cut loss?

Secara harfiah, cut loss bermakna memotong (cut) kerugian (loss), yaitu usaha untuk mencegah agar Anda tidak mengalami kerugian yang lebih dalam lagi. Artinya, ketika Anda melakukan cut loss, maka tujuannya bukan untuk merealisasikan kerugian, melainkan untuk mencegah kerugian yang lebih lanjut ketika saham yang Anda pegang tersebut terus saja turun.

Misalnya Anda menetapkan batas cut loss bila kerugian telah sebesar 5% hingga 10%, sehingga bila kerugian telah mencapai kisaran angka tersebut, Anda dapat langsung menjualnya, sehingga Anda telah membatasi kerugian Anda lebih jauh, dan Anda tidak menderita kerugian lebih besar.

Sebaliknya, jika Anda menjual saham pada harga yang lebih tinggi dibanding harga belinya, maka itu disebut dengan profit taking, alias merealisasikan keuntungan, dan bukan untuk memotong potensi keuntungan yang masih bisa Anda raih.

Itu berarti, Anda hanya boleh menjual saham Anda ketika Anda melihat bahwa potensi kenaikan harganya sudah terbatas, atau kemungkinan besar kedepannya harganya akan turun. Sebagian besar investor membenci cut loss, dan karenanya beberapa investor memilih untuk tidak melakukan cut loss ketika saham yang mereka beli harganya malah turun.

Dalam hal ini, mindset yang tertanam di benak si investor adalah jika ia menjual sahamnya tersebut dalam posisi rugi, maka itu berarti merealisasikan potensi kerugian yang terjadi, dan bukannya cut loss, alias mencegah agar kerugian yang terjadi tidak semakin besar.

Mengapa Cut Loss harus Dipasang?

Penggunaan cut loss adalah wajib dalam menjaga modal, tanpa adanya disiplin cut loss, maka investor/trader tidak akan punya pengaman yang menjaga modal mereka bila terjadi krisis finansial, atau terjadi sesuatu di luar dugaan yang membuat perusahaan yang sahamnya dipegang mengalami penurunan kinerja. Karena itu cut loss juga disebutprotective stop.

Kapan Waktu Cut Loss?

Waktu untuk Cut Loss dapat berbeda tergantung posisi Anda dalam bertransaksi saham, karena apakah Anda seorang trader yang aktif, atau seorang investor yang berinvestasi jangka panjang, memiliki time frame yang berbeda dalam menentukan keputusan untukcut loss.

Lakukan Cut Loss

Lakukanlah cut loss apabila setelah analisis ulang, ternyata potensi pergerakan harganya akan cenderung makin turun. Kalau ternyata keputusan Anda dalam melakukan cut loss tepat, berarti Anda sudah mencegah diri dari kerugian yang lebih besar. Namun apabila ternyata keputusan Anda dalam melakukan cut loss salah, berarti Anda sudah mencegah diri dalam hal mengurangi kerugian saat ini. Ini berarti harga akan bergerak ke arah ekspektasi awal Anda.

 

5 Menit Sederhana Belajar Analisa Fundamental Perusahaan

Analisis fundamental merupakan analisis yang mempelajari kondisi fundamental perusahaan termasuk mempelajari rasio keuangan perusahaan, dan umumnya digunakan untuk menentukan saham yang ingin dibeli atau dijual,  yang berkaitan dengan kondisi dasar (fundamental) sebuah perusahaan, baik secara kuantitatif (keuangan), maupun kualitatif (non-keuangan).

Dalam berinvestasi saham sendiri, agar terhindar dari risiko stres secara psikologi, maka kita harus mengetahui kondisi perusahaan yang sahamnya akan kita beli.

Berikut Pendekatan untuk mempelajari Analisa Fundamental dengan Pendekatan TopDown

1 Kondisi Makro Dunia Usaha

Faktor ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan ekonomi pemerintah, seperti kebijakan suku bunga. Jika suku bunga tinggi, investor lebih suka menanamkan uangnya di Bank, sehingga menghambat pertumbuhan bisnis perusahaan. Sebaliknya, jika suku bunga rendah, saham menjadi pilihan investor dan perusahaan juga lebih giat berbisnis.

Pertumbuhan ekonomi juga menentukan harga saham, jika ekonomi lesu, maka kinerja perusahaan ikut memburuk dan membuat harga saham turun. Jika ekonomi menguat, prospek perusahaan akan bertambah cerah, demikian pula harga sahamnya. Faktor kestabilan politik pun ikut mempengaruhi kondisi dunia usaha dan juga tentunya harga saham.

2 Kondisi Sektor dan Industri

Kondisi industri di mana suatu perusahaan berada juga mempengaruhi naik turunnya harga saham perusahaan tersebut. industri yang bertumbuh pesat akan melambungkan harga saham perusahaan industri tersebut.

Setelah melakukan pendekatan analisis Top Down Approach, hal selanjutnya yang juga penting adalah menghitung nilai wajar (fair price) alias nilai intrinsik sebuah saham Nilai wajar ini pun kemudian dibandingkan dengan harga pasar saham tersebut. keputusan transaksi beli atau jual pun nantinya didasarkan pada perbandingan nilai wajar dan harga pasar saham tersebut.

Untuk menghitung nilai wajar ini kita harus mengestimasi arus kas yang akan dihasilkan oleh perusahaan dari sekarang hingga seterusnya.Arus kas ini berasal dari laba bersih usaha. Arus kas ini kemudian divaluasikan dalam nilai saat ini dan dijumlah untuk mendapatkan nilai wajar.

Secara sederhana, harga saham dapat diprediksi dengan menganalisis data keuangan yang tersedia. Untuk menganalisis kondisi keuangan perusahaan, investor dapat memanfaatkan laporan keuangannya yang merupakan gambaran kondisi keuangan perusahaan pada suatu saat atau selama periode tertentu.

 

Tips Memilih Saham yang Menguntungkan (Profitable)

Investasi di pasar modal perlu kecermatan dalam memilih portfolio saham-saham yang dapat memberikan keuntungan bagi investor. Bagaimana cara pemilihan paling ideal?

Berikut tips sederhana memilih portfolio saham ideal:

1. Return on Equity (ROE): Diatas bunga kredit bank

     Sebaiknya memilih saham yang memiliki tingkat pengembalian ekuitas (ROE) diatas biaya untuk meminjam dari bank untuk melakukan  usaha. Contohnya bila bunga kredit dari bank 11%, maka ROE saham yang dipilih harusnya lebih tinggi dari itu.

Fund Manager mengambil langkah yang lebih kompleks, yaitu mencari ROE saham yang lebih tinggi dari ROE emiten yang ada di pasar modal dan dalam indeks harga saham gabungan (IHSG).

2. Debt to Equity Ratio (DER): Dibawah 2 kali

    Meniru cara investasi saham ala Syariah Islam yang tidak memiliki emiten dengan utang tinggi atau rasio utang terhadap ekuitas datas 2x, juga bisa mengurangi risiko investasi.

    Akan tetapi, seiring dengan keadaan dunia saham yang berubah, bila emiten terlihat akan melakukan aksi korporasi yang jelas untuk mengurangi utang, bisa dilakukan pengecualian.

3. Positive Earnings (carilah perusahaan untung)

    Sebaiknya memilih emiten dengan pertumbuhan laba positif dan menjauhi perusahaan yang rugi atau perusahaan yang memiliki earnings negatif.

4. Kapitalisasi besar & liquid (sering diperdagangkan)

     Saham-saham yang bisa dipilih misalnya emiten yang tergolong LQ45, atau saham-saham aktif dan bukan merupakan saham tidur. Saham-saham emiten berkapitalisasi pasar besar atau blue chip biasanya direkomendasikan.